Catatan Bang HRN
Ketika menamatkan Pendidikan SMA pada tahun 1983, saya dihadapkan pada beberapa pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saat itu rekrutmen mahasiswa baru untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) disebut Perintis. Ada Perintis I untuk perguruan tinggi favorit diantaranya UI, ITB, UGM dan USU. Ada Perintis II yaitu khusus untuk calon mahasiswa berbakat (mahasiswa undangan/tidak melalui testing) yaitu IPB. Dan ada Perintis III yaitu PTN yang ada di daerah-daerah waktu itu diantaranya Unand yang ada di Padang.
Saya dihadapkan pada dilema untuk memilih perguruan tinggi mana, karena untuk Perintis I dan Perintis II melalui testing yang berbeda 5 tanggalnya sehingga setiap lulusan SMA dapat testing untuk kedua jalur tersebut. Kami waktu itu bisa testing di dua jalur itu dan masing-masing jalur ada dua pilihan.
Ayah saya yang adalah seorang pegawai rendahan di Perusahan Jawatan Kereta Api (PJKA , sekarang Perumka). Beliau untuk membiayai pendidikan anak-anaknya terpaksa bertani (bersawah dan berladang). Mungkin karena beliau suka bertani menyarankan saya memilih Fakultas Pertanian. Sementara kakak saya yang tertua yang adalah seorang Kepala Sekolah Dasar menyarankan saya untuk masuk Fakultas Kedokteran. Sementara guru Bahasa Indonesia saya di SMA menganjurkan saya masuk Fakultas Sastra. Sementara saya sendiri ingin masuk Fakultas Hukum.
Dilematis kan? Tentu mereka punya alasan sendiri kenapa mereka menyarankan saya kuliah di jurusan itu. Ayah saya karena sehari-hari bertani, belau menginginkan saya jadi seorang Insinyur Pertanian, karena beliau sering menghadiri penyuluhan-penyuluhan yang dilakukan para insinyur pertanian. Sedangkan kakak saya yang Kepala Sekolah mengatakan jadi dokter itu enak dan bisa banyak membantu banyak orang terutama orang sakit. Sementara guru Bahasa Indonesia mengatakan saya berbakat jadi sastrawan karena saya sering menulis puisi dan cerpen di Majalah Dinding Sekolah. Sedangkan saya sendiri terobsesi dengan salah seorang paman saya yang sukses jadi pengacara. Waduh saya jadi pusing memikirkan pilihan kuliah saya.
Akhirnya saya mengikuti testing Perintis I dengan pilihan pertama Fakultas Kedokteran UI dan pilihan kedua Fakultas Hukum UGM. Lalu testing Perintis III saya memilih Fakultas Pertanian Unand dan Pilihan Kedua Fakultas Sastra USU. Celakanya saya dinyatakan lulus di Fakultas Hukum UGM dan Fakultas Sastra USU.
Awalnya saya bergembira saya lulus di Fakultas Hukum UGM. Berarti obsesi saya ingin jadi pengacara bakal tercapai apalagi saya lulus di universitas favorit sekelas UGM. Tapi apa daya kedua orangtua saya menangis sedih ketika saya katakan saya akan kuliah di UGM. Kok sedih? Ibu saya mengatakan “Jika kau kuliah jauh dari Kota Padang ini bagaimana caranya kami membiayai kamu sementara kondisi kami sangat memprihatikan ada lagi dua orang adikmu yang lagi sekolah. Yogya itu jauh nak, menyebrangi pulau lagi. Sedangkan jika kau kuliah ke Medan saja kami pun belum tentu sanggup membiayamu,”. Saya terenyuh juga mendengar keluhan ibu saya itu dan saya katakan: ”Mak nggak usah memikirkan biaya saya di sana, awak kan bisa cari sendiri, misalnya dengan berjualan koran atau usaha yang lain. Yang penting awak kuliah,” kata saya meyakinkan ibu saya.
Akhirnya dengan berbagai pertimbangan saya memilih kuliah ke Medan, kan tidak terlalu jauh dari Padang dan bisa ditempuh dengan naik bus saja. Tapi timbul masalah lain, saudara sepupu saya, tetangga saya, dan kawan dekat saya mengejek saya dengan mengatakan: ”Eh, kuliah di Fakultas Sastra, mau jadi apa kau? Mau jadi gembel? Kayak sastrawan-sastrawan itu? Nadanya meremehkan, merendahkan, artinya kita dipandang sebelah mata.
Persepsi Tentang Sastra
Memang dalam masyarakat umum dan awam, pandangan terhadap sastra cenderung sangat diskriminatif. Masyarakat awam menganggap sastra itu sangat rendah bahkan ada yang melihatnya sebelah mata. Seorang sastrawan sering dilihat dari penampilan fisiknya yang kadang-kadang semrawut, tentu berbeda dengan penampilan seorang dokter, seorang pengacara atau seorang insinyur pertanian. Tapi kan tidak semua sastrawan itu dekil atau kumal. Banyak juga sastrawan besar dan terkenal yang penampilannya memukau. Toh penampilan seseorang tidak berbanding lurus dengan pemikirannya. Kebanyakan para pemikir memang tidak terlalu mengedepankan penampilan kecuali para artis dan para pemain teater yang harus terikat dengan busana tokoh yang diperankannya.
Sebenarnya kalau kita memandang sastra harus dilihat dari dua sisi yaitu sastra sebagai ilmu pengetahuan dan sastra sebagai sebuah produk akal budi.
Sekarang mari kita lihat sastra sebagai ilmu pengetahuan. Pada hakikatnya sastra itu cabang dari ilmu humaniora yang lainnya. Sama seperti ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu politik dan lain-lain. Sebagai ilmu, sastra juga sistematis atau terstruktur, ilmiah dan objekif. Bahkan ilmu sastra itu dianggap lebih luas karena mencakup ilmu bahasa, ilmu kesusastraan, ilmu sejarah, ilmu arkeologi, dan filsafat makanya sekarang Fakultas Sastra disebut sebagai Fakultas Ilmu Budaya (FIB). Makanya lulusan FIB itu berkualifikasi sebagai ahli bahasa, ahli kesusastraan, ahli antropologi, ahli sejarah, ahli arkeologi, dan ahli filsafat.
Sebagai ilmu di perguruan tinggi ada Fakultas Sastra (sekarang FIB), yaitu fakultas tempat para mahasiswa mempelajari ilmu sastra. Tapi apakah Fakultas Sastra akan menciptakan sastrawan? Tentu tidak juga yang pasti Fakultas Sastra menghasilkan Sarjana Sastra. Kalaupun sarjana sastra itu kemudian di dunia kerja memilih profesi tidak sebagai sastrawan ya sah saja. Tapi sudah pasti semua Sarjana Sastra akan memilki rasa kesusastraan itu dalam karirnya di dunia kerja.
Kebanyakan Sarjana Sastra memilih karir sebagai dosen, guru, wartawan, jurnalis, penulis dan pegawai pemerintahan. Tapi banyak juga sarjana sastra yang akhirnya sukses berkarier sebagai politikus dan pengusaha.
Sekarang mari kita lihat sastra sebagai produk olah fikir manusia yaitu puisi, cerpen, roman, novel, drama. Lalu apakah di prodi sastra diajarkan membuat karya sastra itu? Mungkin ada dulu ketika saya kuliah kami diajarkan Teknik Menulis Cerpen, Dramaturgi dan mata kuliah lain tentang produk-produk kesusastraan itu. Barangkali mata kuliah inilah yang menginspirasi mahasiswa Fakultas Sastra juga bisa menulis puisi, cerpan dan naskah drama.
Menjadi Sarjana Sastra akan lebih mempunyai nilai tambah dibandingkan sarjana ilmu lain. Karena di Fakultas Sastra dipelajari fungsi-fungsi karya sastra yang secara langsung akan mempengaruhi cara berpikir sarjana sastra. Banyak juga kemudian sarjana lain yang mempelajari sastra untuk meningkatkan nilai tambahnya, misalnya banyak dokter yang suka membaca novel atau ada insinyur pertanian yang suka menulis puisi.
Nilai Tambah Sarjana Sastra
Sarjana Sastra biasanya memiliki budi pekerti yang luhur karena banyak membaca karya sastra yang memuat nilai-nilai luhur sehingga mempengaruhi pembacanya. Sarjana Sastra juga mampu menjadi komunikator yang baik karena selalu mempelajari bahasa sehingga mampu berkomunikasi dengan baik dengan semua pihak. Sarjana Sastra juga mampu menggunakan diksi yang baik dalam berbicara sehingga gampang dicerna orang.
Sekarang coba pikirkan apakah kita perlu memandang sebelah mata kepada Sarjana Sastra?
- Disampaikan pada acara KLAUSA mahasiswa Prodi Sastra Indonesia FIB USU di Berastagi, Jum’at, 13 Februari 2026.
- Bang HRN adalah Jurnalis BBINEWS.COM.







