Iran di Titik Nadir : Antara Bayang-Bayang Dinasti Khamenei dan Desakan Reformasi

TEHERAN, BBINEWS –

Iran akan segera mengumumkan pengganti Ayatollah Ali Khamenei di tengah eskalasi perang melawan Amerika Serikat dan Israel. Pemilihan ini menjadi krusial untuk menjaga stabilitas pemerintahan yang kini sedang digempur serangan udara besar-besaran.​

Read More
Promo

‎”Sebuah opini yang hampir pasti telah dicapai dan mayoritas signifikan telah terbentuk. Namun diwaktu yang sama, beberapa halangan harus dihilangkan. Dan kami sangat berharap itu akan segera terwujud” ujar Mohammad Mehdi Mirbagheri, seorang petinggi Assembly of Experts.

‎​Sementara itu, Ahmad Alamolhoda, seorang pemimpin muslim-garis keras menegaskan bahwa sosok pemimpin baru sebenarnya telah terpilih secara internal. Kini, sekretariat Assembly of Experts hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengumumkan hasil tersebut kepada publik. Langkah cepat ini diambil guna mengisi kekosongan kekuasaan setelah gugurnya Khamenei pada akhir Februari lalu.

‎​Kriteria Ketat dan Kandidat Kuat

‎​”Di antara semua atribut, kesalehan dan finansial pemimpin tertinggi adalah hal yang paling utama,” kutip Abbas Kaabi,  seorang anggota senior The Guardian Council mengenai pesan terakhir mendiang Khamenei. Selain faktor integritas, calon pemimpin diwajibkan memiliki komitmen teguh pada prinsip Revolusi Islam 1979. Hal ini mencakup sikap anti-arogansi serta keberanian dalam menghadapi aliansi Amerika Serikat dan rezim Zionis.

‎​Di sisi lain, nama Mojtaba Khamenei muncul sebagai kandidat terkuat karena mendapat dukungan penuh dari para komandan terkuat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Namun, pencalonan putra kedua mendiang pemimpin tersebut mendapat tantangan keras dari dunia internasional. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan keberatannya terhadap kenaikan takhta Mojtaba dalam peta politik Iran.

‎​Perpecahan Internal dan Tekanan Militer

‎Saat ini, faksi garis keras mendesak pengumuman segera demi meredam gejolak internal yang kian memanas. Tekanan semakin meningkat setelah Israel bersumpah akan terus memburu para pemimpin Iran yang tersisa di persembunyian mereka.​

‎Menanggapi situasi darurat negara, Ayatollah Hossein Nouri-Hamedani dengan tegas menyatakan bahwa proses ini harus dipercepat untuk mengecewakan musuh dan menjaga persatuan bangsa.

‎​Selain ancaman eksternal, ketegangan politik domestik meledak setelah Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan permohonan maaf kepada negara tetangga atas serangan rudal Iran. Pernyataan kontroversial tersebut langsung dimentahkan oleh pihak militer dan tokoh garis keras yang menegaskan bahwa perang akan terus berlanjut. Akibatnya, posisi kelompok reformis semakin tersudut di bawah bayang-bayang kendali militer IRGC.

‎​Kondisi Darurat di Teheran

‎Meskipun demikian, suara kelompok moderat sulit terdengar di tengah kepulan asap hitam yang menyelimuti Teheran akibat pengeboman kilang minyak. Hujan hitam yang membawa residu minyak kini mengguyur kota berpenduduk 10 juta jiwa tersebut.​

‎”Jalan kita adalah jalan kebebasan dan kemandirian, namun itu memerlukan kebijaksanaan serta toleransi,” ungkap mantan Presiden Mohammad Khatami yang mencoba menawarkan arah reformasi.

‎​Pada akhirnya kondisi keamanan di Iran berada pada titik nadir setelah serangkaian upaya pembunuhan terhadap tokoh-tokoh penting, termasuk Mahmoud Ahmadinejad. Fokus dunia kini tertuju sepenuhnya pada keputusan Assembly of Experts dalam beberapa jam ke depan. Pengumuman pemimpin baru ini diharapkan menjadi penentu apakah Iran akan menempuh jalur diplomasi atau terjun lebih dalam ke kancah perang regional.(*)

Disadur dari Al-Jazeera

Editor: Eko Yuharnanda

banner 728x90

Related posts

Promo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *