JAKARTA, BBINEWS.COM –
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan perluasan musim kemarau di Indonesia yang diperparah oleh fenomena El Nino per Juli 2026. Meski demikian, kombinasi gelombang atmosfer hilir mudik memicu hujan lebat hingga angin kencang di sejumlah daerah.
Puncak kemarau diprediksi melanda 369 zona musim pada Agustus nanti setelah sebelumnya menjangkau 83 zona di bulan Juli. Guna mengantisipasi dampak buruk hidrometeorologi, BMKG melalui kanal youtube-nya menyebarkan informasi ini kepada seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan nasional.
Kondisi kering terdeteksi dari indeks Nino 34 yang positif serta catatan suhu udara menyengat di atas 35 derajat Celcius. Ironisnya, indikator Madden Julian Oscillation dan gelombang Kelvin justru aktif memicu awan hujan lokal saat ini.
Curah hujan harian tertinggi dilaporkan telah mengguyur Kepulauan Riau sebesar 81 mm dan Kalimantan Barat 76 mm dikuti Papua Tengah 57 mm, dan Sumatera Utara 54 mm. Sirkulasi siklonik di Samudra Hindia dan Pasifik turut melabilkan atmosfer yang memicu hujan lebat tak menentu.
Peta Peringatan Dini dan Wilayah Terdampak
”Berdasarkan dinamika atmosfer, prakiraan cuaca periode 3 hingga 6 Juli 2026 didominasi kondisi hujan ringan hingga lebat,” ungkap BMKG melalui kanal youtube pada Jumat (3/7/2026). Warga diminta mewaspadai status siaga di Maluku serta potensi angin kencang di belasan provinsi lain.
Selanjutnya, ancaman angin kencang diproyeksikan meluas ke wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara pada 7 hingga 9 Juli. Cuaca ekstrem skala nasional ini memaksa otoritas terkait memperketat pemantauan wilayah yang rawan bencana.
”Kami mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk selalu terhidrasi dengan baik dan menghemat penggunaan air,” tegas BMKG. Penggunaan pelindung luar ruangan seperti payung dan tabir surya juga sangat disarankan demi kesehatan tubuh.
Masyarakat dipersilakan terus memperbarui informasi resmi melalui aplikasi Info BMKG maupun kanal media sosial instagram @infobmkg. Langkah antisipatif yang mandiri sangat diperlukan untuk meminimalkan dampak buruk dari ketidakpastian iklim global.(*)





