Kondisi Pasar Modal dan Makroekonomi Sepekan Terakhir

JAKARTA, BBINEWS – 

‎IHSG tercatat mengalami koreksi tajam sebesar -7,89% sepanjang pekan pertama Maret 2026. Penurunan ini berlanjut pada awal pekan (9/3/2026) sebesar -3,27% seiring dengan pelemahan bursa di kawasan Asia Pasifik.

Read More
Promo

‎​”Pelemahan IHSG yang mencapai -7,89% dalam sepekan ini merupakan alarm keras bagi investor karena sentimen negatif dari bursa Asia Pasifik turut menekan pasar domestik kita,” ujar Aldino Martova seorang analis pasar modal di Jakarta. Analis pasar modal tersebut menyoroti koreksi indeks Nikkei 225 dan KOSPI yang sama-sama merosot -5,96%.

‎​Kekhawatiran pelaku pasar saat ini berfokus pada volatilitas harga energi global. Kondisi tersebut diprediksi akan memperlebar defisit APBN yang per Februari 2026 sudah mencapai Rp135,7 triliun.

‎​Perkembangan Nilai Tukar dan Cadangan Devisa

‎​”Kita harus waspada karena posisi Rupiah yang tertekan ke Rp 17.000 per dolar AS serta penurunan cadangan devisa menjadi indikator utama,” tegas Aldino yang juga merupakan politisi partai Golkar. Saat ini, nilai tukar rupiah berada di level Rp16.888 per USD (Data Bloomberg per pukul 11:13 WIB ).

‎​Depresiasi rupiah tersebut berdampak langsung pada posisi Cadangan Devisa (Cadev) nasional. Tercatat Cadev Februari 2026 turun menjadi USD 151,9 miliar dari bulan sebelumnya sebesar USD 154,6 miliar.

‎​Meskipun tekanan makro ekonomi menguat, beberapa emiten tetap menunjukkan pergerakan strategis di pasar. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan investor di tengah fluktuasi indeks.

‎​Laporan Kinerja dan Aksi Korporasi Emiten

‎​PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara selaku pengendali INET melakukan aksi beli saham senilai Rp12,45 miliar. Langkah ini meningkatkan kepemilikan pengendali menjadi 59,56% sebagai sinyal optimisme terhadap prospek bisnis.

‎​Di sisi lain, ADMR melaporkan penurunan laba bersih sebesar 37,9% secara tahunan (YoY). Meski volume produksi batubara naik menjadi 7,41 juta ton, koreksi harga jual rata-rata menekan pendapatan perusahaan.

‎​Sementara itu, BBNI mengumumkan pembagian dividen tunai total sebesar Rp13,02 triliun. Dengan harga penutupan 9 Maret 2026, tingkat keuntungan dividen (yield) BBNI mencapai angka signifikan sebesar 8,2%.

‎​Aksi pembagian dividen ini diharapkan mampu memberi sentimen positif bagi pemegang saham. Pasar kini menantikan stabilitas harga energi untuk menentukan arah investasi selanjutnya.(*)

Reporter : Eko Yuharnanda

banner 728x90

Related posts

Promo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *