MEDAN, BBINEWS –
Harga minyak mentah melonjak tajam setelah penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi perang Amerika Serikat dan Iran yang diduga kuat dipicu ambisi Israel menguasai Timur Tengah. Brent kini bertengger di level $83,07 per barel, sementara WTI naik menjadi $76,60 per barel. Akibatnya, gejolak ini menjadi alarm bahaya bagi APBN Indonesia yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi global.
Merespon situasi ini, pemerintah memastikan bahwa stok energi nasional berada pada level aman, dengan kebijakan tidak ada kenaikan harga untuk BBM subsidi guna menjaga daya beli masyarakat.
”Kemarin kami sudah melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional. Di situ kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita menjelang hari raya Idul Fitri insya Allah semua aman, termasuk dengan elpiji,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Rabu (4/3/2026).
Mengingat sekitar 25% impor minyak kita bergantung pada stabilitas di Selat Hormuz, pemerintah telah mengalihkan sebagian sumber impor minyak dan elpiji ke negara-negara seperti Amerika Serikat serta mitra strategis lainnya yang tidak melewati jalur Selat Hormuz.
”Kalau menyangkut BBM, kan, yang kita impor tinggal bensin dan itu kita belinya di Asia Tenggara, tidak ada di Middle East,” kata Bahlil setelah mengikuti rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta.
Eskalasi Militer di Kawasan Teluk
Sementara itu, eskalasi militer makin meluas setelah serangan AS menghantam kapal perang Iran di lepas pantai Sri Lanka. Dukungan penuh Senat Republik terhadap kampanye militer Presiden Donald Trump mempertegas aliansi strategis Washington dan Tel Aviv di kawasan tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk melumpuhkan pengaruh ekonomi Iran secara total.
Bagi Indonesia, lonjakan harga ini berdampak langsung pada membengkaknya subsidi BBM dan kompensasi energi. Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan sulit antara menaikkan harga BBM domestik atau menanggung beban defisit anggaran yang kian melebar. Selain itu, tekanan terhadap rupiah juga meningkat seiring besarnya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak mentah.
Lumpuhnya Produksi Negara OPEC
Di sisi lain, Irak sebagai produsen terbesar kedua OPEC terpaksa memangkas produksi hingga 1,5 juta barel per hari. Ketiadaan rute ekspor yang aman dan keterbatasan penyimpanan menjadi alasan utama penghentian produksi tersebut. Gangguan ini memicu kekhawatiran akan kelangkaan pasokan minyak untuk kilang-kilang di Asia, termasuk Indonesia.
Sejalan dengan itu, Qatar juga menyatakan status force majeure pada ekspor gas alam cair (LNG) mereka akibat situasi keamanan yang memburuk. Pemulihan volume produksi normal diperkirakan memakan waktu setidaknya satu bulan akibat blokade tersebut. Hal ini mengancam ketahanan energi industri nasional yang bergantung pada pasokan gas stabil.
Risiko Keamanan Maritim yang Ekstrem
Lebih lanjut, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, urat nadi bagi seperlima energi dunia, kini terhenti total selama lima hari. Penutupan jalur ini menghambat distribusi minyak mentah menuju pasar global secara masif. Indonesia harus bersiap menghadapi gangguan logistik pengapalan yang dapat memicu kenaikan biaya kargo laut.
Bahkan, laporan ledakan di dekat tanker di perairan Kuwait semakin memperburuk risiko keamanan maritim bagi kapal-kapal pengangkut. Badan Maritim Inggris mengonfirmasi aktivitas mencurigakan di area tersebut sesaat setelah ledakan terjadi. Ketidakpastian ini membuat premi asuransi pengiriman melonjak drastis yang akhirnya membebani harga beli konsumen.
Hambatan Logistik dan Masa Depan Energi
Oleh karena itu, J.P. Morgan mengestimasi sekitar 329 kapal minyak terjebak di kawasan Teluk tanpa kepastian jalur evakuasi. Strategi memelihara risiko tinggi ini dinilai sejalan dengan kepentingan Israel untuk mengisolasi kekuatan ekonomi Iran. Dampaknya, stok minyak global terus menipis dan harga tetap berada di level yang sangat tinggi.
Pada akhirnya, sebagian besar lapangan minyak secara teknis dapat beroperasi kembali dalam dua hingga tiga minggu setelah situasi kondusif. Namun, tantangan utama saat ini adalah hambatan logistik yang sengaja diciptakan melalui konflik bersenjata tersebut. Selama ketegangan geopolitik ini belum mereda, ekonomi Indonesia akan terus dihantui oleh ketidakpastian harga energi dan inflasi.(*)
Dirangkum dari berbagai sumber
Editor: Eko Yuharnanda







